Tampilkan postingan dengan label finance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label finance. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juli 2017

Inside A Happy Nest .. Mine!

Dalam satu tahun sejak membeli rumah, salah satu kegiatan menarik adalah mendekornya. Ribet tapi sangat menyenangkan. Harus diakui, mendekor itu gampang-gampang susah. Kita harus jadi ahli ukur, ahli tata ruang, sekaligus seniman untuk padu padan antar ruangan, furniture, dan pernak pernik. Jangan sampai ketika kita sudah membeli furniture, malah tidak bisa masuk kamar kita. Ataupun ketika kita sudah membeli pernak pernik, tidak cocok dengan warna gorden ataupun keramik.

Mendekor rumah sebaiknya jangan dilakukan sekaligus untuk menghindari kelebihan beli. Perlahan tapi pasti. Jangan membeli berlebihan, tapi juga jangan terlalu minim sampai tidak nyaman.


Dan ..... inilah penampakan rumah setelah didekor  ...


Bikin Cantik Rumah Tahap 1




Bikin Cantik Rumah Tahap 2


Tema buat rumah mungil ini adalah simple dan manis. Gak terlalu banyak pernak pernik, furniture pun minimalis (kebanyakan warna putih,abu, dan hitam), tapi dipermanis dengan bantal-bantal bermotif dan sticker bunga yang warna nya ceria. Sesuailah dengan keinginan saya yang efisien, tidak banyak gaya, tapi tetap girly.



"Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan,
dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan 
bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik"
Amsal 24 : 3-4






Rabu, 11 Mei 2016

Update Cerita Kehidupan dan Pencapaian Di Akhir 20-an

Sudah lama sekali saya tidak update blog. Malas, sibuk, gak mood ... semua jadi excuse buat gak nulis lagi. N tiba-tiba, merasa rindu untuk menulis .. rindu untuk berbagi cerita ... n here I am, writing again after long time hiatus.

Dalam dua tahun ini, of course ada perubahan yang terjadi. Tidak terlalu banyak, tapi lumayan signifikan dalam hidup.

First, my target dan cita-cita dari umur 15 tahun akhirnya tercapai.  Punya rumah sendiri. Saya tidak tahu cita- cita orang lain apa kalau sudah mencapai umur 30, tapi dari dulu, sejak dari remaja keinginan saya adalah punya rumah sendiri. My own nest, yang saya dapatkan dari hasil jerih payah. N saat proses beli rumah, boleh lah sedikit berbangga karena tanpa bantuan keluarga sama sekali. Dari awal sampai akhir saya urus semua sendiri. Nyambangin lokasi rumah satu-satu, seleksi rumah, bikin NPWP, akad kredit ke bank .... semua tanpa ditemani keluarga.

Step by Step E-Filling Laporan Pajak 2016 (Especially untuk Profesional)

Setelah lama berkutat dengan perlu tidaknya membuat NPWP (semacam ID seperti KTP untuk urusan keuangan negara), akhirnya bulan Agustus 2015 saya membuat NPWP. Itu juga karena syarat mutlak untuk pengajuan KPR (Kredit Kepemilikan Rumah). Nah, saat itu diminta marketingnya buat NPWP, ya sudah ... dituruti saja. Apalagi prosesnya mudah banget (waktu itu saya apply secara online, lalu tinggal ambil kartunya ke kantor pajak terdekat). 
 
Sebagai newbie dalam NPWP, saya tidak mengerti buat apa NPWP. Hanya tahu NPWP perlu untuk beli rumah, habis itu blank. Proses KPR rumah disetujui (yeay .. !!!), I got a house dan berakhirlah nasib kartu NPWP di dompet saya tanpa pernah dlirik lagi. 

Waktu pun berlalu, dan saya sibuk dengan dekorasi rumah baru, yang memakan tenaga, pikiran waktu, dan of course duit juga habis. Intinya dekorasi rumah makan energi banget biarpun happy pas huntingnya. Hampir beres dengan dekorasi rumah, pas ngecek email (20 April 2016) dapat warning dari kantor pajak. Intinya disuruh ngisi e-filling sampai akhir April, kalau lewat dari tanggal 30 April kena denda.  Ya ampun, disitu baru saya searching soal e filling, dan akhirnya nyadar kalau punya NPWP, berarti perlu mengisi laporan tahunan. Laporan soal penghasilan yang diterima untuk diproses pajaknya.

Untungnya, sekarang ada e-filling, yakni aplikasi yang dibuat oleh pemerintah sebagai suatu kemudahan pelaporan pajak tahunan. Jadi kita tidak perlu lagi antri di kantor pajak untuk melapor karena bisa mengisi laporan dari rumah dengan e-filling ini.

Tetap saja, pengisian e filling tidak semudah pembuatan account bank. Prosedurnya jauh lebih ribet n masih bikin pusing karena kurangnya penjelasan secara detail. Apalagi soal pajak penghasilan, dimana tiap orang berbeda hitungannya (wirausaha dan professional kudu itung sendiri lagi) -_-“ Untung banyak blogger baik hati yang menulis tentang tutorial pelaporan SPT tahunan, jadinya saya bisa belajar dari blog mereka. Pengetahuan dari blog A saya gabung dengan blog B, masalah C saya dapat jawaban dari blog D, dan begitu seterusnya.  

Berikut ini rangkuman step by step PENGISIAN E-FILLING buat wirausaha dan professional seperti yang saya buat



Senin, 09 Februari 2015

Grow your Character First before Grow your Rich!

Seorang teman cowok pernah bilang begini sama saya, "Sapa seh yang gak mau sama elu, Cin? Udah dokter, udah bisa beli mobil sendiri, etc .. a etc .. " yang menyebutkan semua pencapaian saya dalam hidup, tapi semua dinilai dari sisi materi dan gelar.

Saat dengar kata tersebut, dalam hati agak sedikit terangkat. Tapi setelah dipikir jauh lebih dalam, sejujurnya jadi merasa terhina. Dalam otak saya, hmm .. kalau gitu seorang cowo mau sama saya karena ngeliat mobil saya? Ngeliat titel saya 'dr'? Ngeliat seberapa kaya saya? Bukan karena diri saya?

Rabu, 19 Februari 2014

Ekonomi Ceria Versi Cindy

Dari buku Smart Traders Not Gamblers yang saya baca, dibahas soal Cash Flow Quadrant ( Robert T Kiyosaki). Ada empat tipe individu dalam sebuah sistem bisnis : karyawan, wiraswasta, pebisnis sejati, dan investor.

Diunduh dari http:www. financialplanningpeak.blogspot.com

Dari dulu, keluarga saya adalah keturunan wiraswasta. Entrepreneur ‘one man show’. Ada beberapa di antara kami yang bekerja sebagai karyawan, namun kami selalu mencari pekerjaan yang bisa sejalan dengan bisnis entrepreneur kami, atau kalau tidak dapat, setidaknya tidak mengganggu usaha pribadi kami.

Suatu ketika, ketika bisnis pribadi saya sudah berjalan 1 tahun, saya membaca artikel yang sangat menarik di Kompas. Saya lupa tanggal berapa, tapi saya ingat itu adalah hari Minggu. Memang artikel hari Minggu di Kompas selalu paling menarik dibandingkan hari-hari lainnya.

Saat itu dibahas soal pengusaha yang juga dosen di Binus menerapkan suatu sistem yang beliau sebut ‘Ekonomi Ceria’. Di situ beliau membuat usaha kaos yang membagi kegembiraan ke orang lain karena humor/ sarkasme cerdas yang tertulis di kaos tersebut, yang bisa membuat orang lain tertawa. Namun, ekonomi ceria beliau tidak sebatas hanya pada customer. Beliau juga memperlakukan karyawannya dengan baik, seperti fleksibilitas jam kerja asal kerjaan beres, adanya waktu libur yang memadai, gaji yang pas, sehingga karyawannya betah.

Prinsip ekonomi ceria itulah yang membuat saya benar-benar berkesan. Sejak itu saya mulai mencari peluang bagaimana bisnis saya bisa menerapkan ekonomi ceria itu. Tentunya ekonomi ceria versi saya dimodifikasi sehingga cocok dengan bisnis saya. So, inilah ekonomi ceria versi saya.  

Senin, 14 Mei 2012

Process of My New Jobs

Gambar diunduh dari http://coachirina.files.wordpress.com

Semua ini diawali tanpa sengaja, ketika menerima sebuah tawaran bbm dari sebuah teman untuk melamar di sebuah klinik kecantikan. Pas dilihat, lokasi, gaji, waktu, dll -pokoknya semuanya- cocok dengan saya. Sebenarnya, tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa pada akhirnya saya akan bekerja di bidang kecantikan. Di antara teman kuliah (yang tentunya sekarang sudah menjadi dokter), kecantikan adalah salah satu bidang populer. Tapi saya sama sekali tidak berminat, sampai datanglah bbm teman saya itu.

Alasan utama saya melamar di klinik tersebut adalah rasa bosan, lelah, dan jemu di klinik 24 jam. Selama 1 tahun bekerja di klinik 24 jam, mulai terasa efek sampingnya dalam hidup saya. Ibarat pemakaian obat secara kronis, lama-lama saya merasa tubuh ini sudah 'overdosis'. Bawaannya malaise (letih,lesu,lemas) yang tak kunjung hilang, dan setiap waktu istirahat saya habiskan dengan rasa lelah dan hanya ingin bermalas-malasan di tempat tidur. Akibatnya, produktivitas saya berkurang. Emosi pun menjadi labil, dan iritabilitas saya sudah sangat mengganggu kehidupan saya. Kalau ada pasien tengah malam, sudah tak bisa saya terima dengan senang hati. Terkadang bahkan sambil mengumpat dan kalau si pasien berniat berlama-lama, saya akan segera menyudahi pembicaraan.


Senin, 19 Desember 2011

Investasi Saham, Ribet Banget Seh?

Setelah lama gak blogging (seminggu ada kale y), akhirnya kangen juga untuk mulai menulis. Hehe .. biasanya kerjaan saat nunggu pasien adalah blogging, tapi kali ini, ada kesibukan laen yang lebih menyita otak. N waktu juga seh! Hehe .. Eng ing eng .. apakaaah ituuu? Belajar tentang analisa saham! Yup, jauh banget kan? Kedokteran dengan Ekonomi? Dua kutub yang berseberangan, tetapi semakin didalami, semakin banyak persamaannya (apa aja persamaannya? hihihi... sabar y... nanti akan gue paparin) 

Keadaan gue saat ini? Pusing sepusing-pusingnya! Gimana enggak, dari anak Kedokteran yang kerjanya belajarnya soal tubuh manusia mulai dari cara kerja, bagian, dll, sampai kepada obat; sekarang bukanya soal grafik. Analisa grafik, market pasar, berita ekonomi, dll ... haha ..Statistik banget deh! Padahal mata kuliah kedokteran yang paling gue gak bisa pahami adalah Ilmu Kesehatan Masyarakat yang isinya statistik n grafik. Dulu pas keluar dari IKM bener-bener berasa keluar dari penjara! Eh, sekarang nyeburin diri lagi!

N ini hal yang sama sekali baru banget. Gue belajar dari nol.Gak nyangka, banyak banget analisa yang kudu dipelajari, mulai dari istilah baru (biar saat baca berita ngerti maksudnya apa), bermacam-macam grafik, indikator setiap grafik, hitungan ekonomi laba dll, huee .. lebih ribet daripada hitungan uang. N itu gak cuma satu macem saham, tapi beratus-ratus saham yang beredar di pasaran. Kalo mau beli, kudu liat dari sisi sana, sisi sini ... Segala macam sisi diteropong ampe kayanya tuh grafik pasti bete juga diubek-ubek dari A-Z, atas ampe bawah, n diperiksa satu-satu.

Jumat, 02 Desember 2011

Investasi Oh Investasi!

Karena pengeluaran buat jalan-jalan sudah tercover, sekarang sudah mulai ada uang lebih di account bank neh. Nah, karena melihat uang nganggur n rasanya kalau gak digimanain kok percuma y, mulailah tercetus kata investasi! Yup, apalagi setelah membaca bahwa jumlah uang kita akan mengalami infasi (nilainya turun). Misalnya sekarang bisa beli ketoprak dengan harga 6000, nah .. taon depan belum tentu ketoprak masih bisa dibeli dengan harga 6000. Mungkin aja 10000, ato 7000, tergantung berbagai macam faktor. Karena itu, agar jumlah uang gak menyusut, jadilah orang-orang, termasuk gue, mulai melihat investasi.